January 3rd, 2007 by anakbumimanusia

sekejap lalu, keyboard ini masih menari-nari
meniti titian kata dan berserak dilantai kamar
ujung kata t’lah masuk kedalam ujung hidupmu
masa-masa itu t’lah berlalu dengan berkalang dusta

bangunlah janganlah ragu, titian kata tlah diujung pena
langkah itu terus berderak dan menyapa tak henti
hinggap dalam sekejap dan terus menari-nari di dalam nadi
teruslah bertanya dan bisikkan padaku tentang kehampaan

tumpukan kertas itu hendak berkata, sudahilah semua !
tubuh renta itu mulai menyapa dan biarkan asa tetap ada
bukan waktu yang menghambatmu, bukan jua ruang ini
terdiam dan terpaku hendak berucap namun kata tlah habis

Bookmark and Share

March 7th, 2006 by anakbumimanusia

Ah, lagi lagi tak kutrima kabar itu, darimu
sudah berbulan-bulan bahkan bertahun tahun kesepian ini melanda
aku mati berkalang harap, dan hidup berbias noda
mungkinkah ajal menjemput dan tetap kabar itu tak kutrima, darimu

serasa sesak dadaku, tak hendak untuk berucap !
namun aku masih punya jari, hanya tuk skedar mengetikan satu atau dua kata
dan masih berharap pada dunia, semua pasti akan berubah,

tersiar kabar dari seberang laut sana, dunia mulai bergerak ke arah yang benar
dan pijar akan harap semakin membesar menarik semua di dekatnya
ah, pikirku… apakah pijar itu-pun akan datang kehadapanku ?

entahlahImperialism_1

Bookmark and Share

Something takes a part of me.

March 4th, 2006 by anakbumimanusia

Smash_patriarchy
Something takes a part of me.
Something lost and never seen.
Everytime I start to believe,
Something’s raped and taken from me… from me.

Life’s got to always be messing with me. (You wanna see the light)
Can’t they chill and let me be free? (So do I)
Can’t I take away all this pain. (You wanna see the light)
I try to every night, all in vain… in vain.

Sometimes I cannot take this place.
Sometimes it’s my life I can’t taste.
Sometimes I cannot feel my face.
You’ll never see me fall from grace

Something takes a part of me.
You and I were meant to be.
A cheap fuck for me to lay
Something takes a part of me.

Feeling like a freak on a leash. (You wanna see the light)
Feeling like I have no release. (So do I)
How many times have I felt diseased? (You wanna see the light)
Nothing in my life is free… is free

Bookmark and Share

Klas-Klas Masyarakat

March 4th, 2006 by anakbumimanusia

Imperialism

Seberkas lembaran lama tak sengaja kutemukan kembali, kubaca perlahan dan kucoba memaknai isinya.

Hari ini, dengan segala kepenatan yang ada di tubuh yang perlahan mengendap-endap mencekikku dalam kesunyian. Kutemui semua hal yang tertulis dalam lembaran lama itu di dalam dunia nyata dan sahih kebenarannya.

Alkisah, datanglah aku ke salah satu raksasa media di kota ini. Sekedar hanya untuk mengikuti tes penerimaan buruh media radio. Diawal, kulihat cukup megah gedung yang berada di depanku ini, Sarinah. Teringat akan kejayaan Sukarno yang memproklamirkan diri sebagai bapak revolusi Indonesia pada masa itu. Akhirnya aku bisa memasuki gedung yang sangat bersejarah ini, yang dibangun saat tradisi kiri cukup kental di indonesia. Gedung ini pernah menjadi media propaganda yang cukup dahsyat di mata internasional, bahwasanya Negara kiri terbesar di Asia Tenggara memiliki gedung yang cukup megah sebagai pusat perdagangan dan perkantoran.

Ah, itu hanya masa lalu !!!

Saat ini gedung ini hanya berisi kantor-kantor yang semata hanya menjadi kaki dari gurita-gurita raksasa perekonomian Indonesia.

Singkat kata, masuklah aku ke dalam sebuah ruangan kecil berukuran 5m x 5 m. mulailah para pion-pion manajemen media ini berpropaganda tentang kejayaan group mereka. Group mereka memiliki banyak franchaise sebagai kaki gurita ekonomi. Mereka bergerak mulai dari Food & beverage, media (cetak &elektronik), pariwisata, hiburan, property dll dll dll. Hmmm, banyak sekali pikirku. Dan kesemuanya berada di kepemilikan satu orang. Hebat benar pikirku, dan saat kutanyakan apa kerja mereka (owner) sekarang? Mereka menjawab owner melaksanakan pengawasan/supervise.

Ahh, pikirku lagi. Sebenarnya apa pekerjaan mereka, pengawasan/supervise hanyalah topeng, apakah mereka hanya ongkang-ongkang kaki dan mendapatkan deviden setiap tahunnya dari franchise2 itu ?

Dan saat kubaca tulisan lama ini, mirip situasinya dengan grup-grup perusahaan di Indonesia saat ini :
“…Kita mulai dengan alat-alat komunikasi. Dan kita dapati telegrafi berada di tangan pemerintah. Perkereta-apian dan sebagian besar kapal-kapal uap samudera dimiliki, bukan oleh kapitalis-kapitalis individual yang mengelola bisnis mereka sendiri, melainkan dimiliki oleh perusahaan-perusahaan perseroan yang bisnisnya dikelola untuk mereka oleh pegawai-pegawai bayaran, oleh pegawai-pegawai yang kedudukannya sepenuh dan selengkapnya adalah sebagai pekerja-pekerja atasan dan yang dibayar lebih baik. Sedangkan yang mengenai para direktur dan pemegang saham, mereka mengetahui bahwa semakin sedikit yang tersebut duluan mencampuri manajemen, dan yang tersebut belakangan dengan supervisi/pemilikan, semakin baiklah itu bagi perseroan tersebut. Suatu pengawasan yang longgar dan cuma resminya saja memang merupakan satu-satunya fungsi yang tersisa bagi para pemilik bisnis itu. Dengan demikian kita melihat bahwa sesungguhnya para pemilik kapitalis perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak mempunyai kegiatan lain dalam perusahaan-perusahaan itu kecuali menerima dividen-dividen (pembagian keuntungan) setengah-tahunan. Di sini fungsi sosial para kapitalis telah dialihkan pada pegawai-pegawai yang dibayar dengan upah; sedangkan ia sendiri terus mengantongi, dengan dividen-dividen itu, upah untuk fungsi-fungsi itu, sekalipun ia telah berhenti mengerjakannya.
Tetapi sebuah fungsi lain masih tersisa bagi kaum kapitalis itu, yang telah dipaksa “pensiun” dari manajemen karena luasnya perusahaan-perusahaan raksasa bersangkutan. Dan fungsi ini ialah berspekulasi dengan saham-sahamnya di pasar bursa. Karena tiada sesuatu untuk dikerjakan, maka para “pensiunan” kita itu, atau yang sesungguhnya para kapitalis yang digantikan itu, berjudi sesuka-suka hati mereka di lingkungan gemah-ripah ini. Mereka pergi ke sana dengan niat tegas untuk mengantongi uang yang pura-pura mereka peroleh (sebagai ‘upah’) sekalipun mereka mengatakan, bahwa asal-muasal segala pemilikan adalah kerja dan simpanan-barangkali memang asal-muasalnya, tetap jelas bukan tujuannya. Betapa munafiknya: dengan kekerasan menutup rumah-rumah judi yang kecil-kecil, sedangkan masyarakat kapitalis kita tidak dapat hidup tanpa sebuah rumah judi raksasa, di mana berjuta-juta demi berjuta-juta diderita sebagai kekalahan dan dimenangkan, menjadi pusat masyarakat itu sendiri! Di sini, sesungguhnya, keberadaan para kapitalis pemegang saham yang “pensiun” itu tidak hanya menjadi berlebihan, melainkan juga suatu gangguan yang tiada terhingga.
Kenyataan yang sebenarnya dalam perkereta-apian dan perkapalan-uap hari demi hari kian menjadi kenyataan pula bagi semua perusahaan manufaktur besar dan perdagangan. “Pengambangan”-mengubah kongsi-kongsi perseorangan besar menjadi perseroan-perseroan terbatas-telah menjadi kenyataan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Dari pergudangan-pergudangan kota Manchester hingga bengkel-bengkel dan tambang-tambang batubara di Wales dan di Utara dan pabrik-pabrik Lancashire, segala sesuatu sedang atau telah dibuat mengambang. Di seluruh Oldham nyaris tersisa sebuah pabrik katun yang berada di tangan perseorangan; bahkan pedagang eceran semakin digantikan oleh ‘toko-toko koperatif,’ yang sebagian terbesarnya hanyalah koperasi dalam nama belaka-tetapi mengenai ini kita tunda untuk lain kali. Demikianlah telah kita melihat bahwa oleh perkembangan sistem produksi kapitalis itu sendiri, kaum kapitalis digantikan secara sama seperti pemintal-tangan. Tetapi dengan perbedaan, bahwa pemintal-tangan ditakdirkan pelan-pelan mati-kelaparan, dan kapitalis yang digantikan itu dengan kematian pelahan-lahan karena terlampau banyak makan. Dalam hal ini mereka umumnya sama saja: kedua-duanya tidak mengetahui harus bagaimana diri mereka itu.
Maka, inilah hasilnya: perkembangan ekonomik masyarakat aktual kita semakin cenderung berkonsentrasi, mengsosialisasikan produksi ke dalam perusahaan-perusahaan raksasa yang tidak dapat lagi dikelola oleh kaum kapitalis tunggal. Segala omong-kosong mengenai “ketajaman melihat”, dan keajaiban-keajaiban yang dihasilkannya, berubah menjadi omong-kosong besar segera setelah suatu perusahaan mencapai suatu ukuran tertentu. Bayangkanlah “ketajaman melihat” Perkereta-apian London dan Barat-laut! Tetapi, yang tidak dapat dikerjakan oleh sang majikan/ahli, pekerja biasa, hamba-hamba perusahaan yang berupah, dapat melakukannya dan itupun dengan berhasil.
Demikianlah, kaum kapitalis tidak dapat lagi mengklaim keuntungan-keuntungan/laba sebagai “upah pengawasan/supervisi,” karena ia tidak mengsupervisi apapun. Biarlah selalu kita ingat itu, manakala para pembela modal menggembar-gemborkan kalimat itu.
Dalam nomor minggu lalu, telah kita coba buktikan bahwa klas kapitalis juga menjadi tidak mampu mengelola sistem produktif rakasa negeri ini; bahwa di satu pihak mereka telah memperluas produksi sehingga secara berkala membanjiri seluruh pasar dengan produk-produk, dan di lain pihak menjadi semakin tidak mampu mempertahankan diri terhadap persaingan dari luar (negeri). Demikianlah kita mendapati, bahwa kita tidak saja dapat dengan sangat baik mengelola industri-industri besar negeri ini tanpa campur-tangan klas kapitalis , tetapi juga, bahwa campur-tangan mereka itu semakin menjadi gangguan tak-terhingga. (”Klas-klas Masyarakat - Diperlukan dan Berlebihan,” diterbitkan dalam The Labour Standard - London, pada bulan Agustus 1881.)

Terlintas dalam benakku kemudian :
“Mundurlah! Berikan kesempatan kepada klas pekerja !!! “

Bookmark and Share

KUASA BUAT KITA LUPA

October 17th, 2005 by anakbumimanusia

kuasa buat kita lupa
oleh : sorang kawan

teruntuk kawan,
malam sunyi bergetar
pagi hari dan beranjaknya tabuh kata tlah dimulai
siang dalam gerak
tapi, benteng para jahanam itu terlalu kokoh

kawan,
langkah juang harus tetap benderang
sebab mentari telah sinari siang kita
dan kalaupun berhenti jangan mati
roh keyakinan mari hadirkan

kawan,
juang kita bukan untuk kuasa
sebab kuasa adalah penindas
siapapun, apapun dan kapanpun

Bookmark and Share

gembira dalam duka lara kami

October 17th, 2005 by anakbumimanusia

tatap liar_mu membahana menusuk relung hati
menyayat dan merubah menjadi serpihan sembilu
tak terungkap dalam tatapan sahabat_ku
linang mengalir dalam totonan mega berlaras duka

kau, kawan
dalam ranah dan raga kekecewaan
tidak percaya dalam gelegak grota azzura
menimpa pundak dan jiwa raga
tak terhalang jeruji besi jiwa
kerangka jiwa terkoyak
dan masih tetap dalam tiran_mu

kawan,
tirani masih belum terlawan
ombak masih belum terlampaui
tapi badai semakin membesar
tamparan semakin mengencang
terbelenggu jiwa ini pada_mu
kapan kau akhiri tawamu
dan berduka bersama kami
berseloroh rendah serendah nasib petani
nyiyir senyiyir nasib buruh kami
kias noda tak kemudian surut lagi
dan kemudian …
sejarah akan kembali berbicara
ataukah sebuah keniscayaan ?

kita, kau dan aku adalah sama
tak berbeda tak berstrata
apakah kemudian pilihan yang akan berkata
namun yang pasti tak ada kata
jurang yang sama akan tetap menganga
terbuka lebar bagi kami
jiwa jiwa yang selalu berkalang noda
dan masih tetap tiran_mu

bagi jiwa-jiwa yang berkalang noda
tak ada kesucian dan persamaan
sama rata sama rasa

Bookmark and Share

Bunda Pemerkosa Jaman

October 17th, 2005 by anakbumimanusia

BUNDA PEMERKOSA JAMAN

bola mata merah lekang pada tatapan
terpana pada molek_nya jaman dan peradaban
menyetubuhi tubuh ibu tak henti
menari meliuk mengikuti alur air mani
gadis-gadis terlupa_terpana
molek lekuk-lekuk jiwa pemerkosa
pada patahan gundah gulana
terus melacuri tubuh-tubu wanita
ganyang tiran pemerkosa jaman
uh … klitoris klitoris itu
membahana meluncur pada rongga

pada tubuh gadis-gadis muda
terpesona_terperangah pada_mu
jingga jingga kelabu di nuansa hati
terus berlinang dan meratapi
menyetubuhi jaman tak pernah henti

Bookmark and Share

and So it is

October 17th, 2005 by anakbumimanusia

and so it is
just, like you say
it would be
life goes easy on me
moves with the time !

and so it is
a short story
no loves no glory
no hero in her skirt
can take my eyes of you !
can take my eyes of you !
can take my eyes of you !

and so it is
just like you say
it should be, we both forget
the breast most of the time
I can’t take my mind of you
I can’t take my mind of you
I can’t take my mind of you

Bookmark and Share

September 27th, 2005 by anakbumimanusia

kuteguk lagi air kehangatan dalam jingga merah darah
yang kembali terngiang dalam amarah tiap manusia
patah hati dan luka mengerang bersama kegelapan
nista-nista kami manusia jalang yang berkehendak mati muda

hembusan kata mengalir dalam darah, hitam pekat
negosiasi terbata bata dan muncul sesekali saja
lembaran kertas dan tinta hitam berburu
menuju luka-luka yang teriris oleh tatapan mata
mata dan telinga masih terus bekerja mengembalikan kesadaran
hari ini cintai diri sendiri, narcisis fatal
memburu nadi hidup meraba kemuraman tatapan mata

siraman kata-kata membalikkan semua
tak pernah sepi walau hanya sepersekian waktu
satu tombol dan beberapa perintah kata
mengakhiri masa-masa, terencana pasti

kian lagi paruh waktu berjalan, menitiki jarum-jarum yang lumpuh
dalam genggaman masa dan apakah demi masa ?
hanya gabungan seringai senja menapaki alur sungai air kelabu
saat-saat teringat masa, kala lagu masih belum hambar didengar
surga-surga menatap garang dengan kesendirian
sebagaimana layak terlahir dan mati berkalang duka

saat-saat waktu..
hanya tahu arah mana yang harus dituju
sekarang atau tidak sama sekali
ayolah, bungkam kenistaan wajah pada mata ibu
yang terus melihat kita dengan sendu, tiap waktu
dan berharap dapat meraba dengan kasihnya

serat-serat luka tak pernah berharap sembuh dengan sendirinya
koordinat waktu menempa wajah kesendirian, muram
sepi namun hangat terkena mentari, berharap !

sudut ruang kosong melajang menambahi sesaknya dada
asap kembali menghadang wajah kesendirian dan bertanya :
mungkinkah waktu kembali terulang, atau berhenti sedetik ?
kemudian berharap lenyap dalam sekejap pada paruh waktu
di titik 12 kosong kosong malam.

Bookmark and Share

tentang aktifis yang aneh

September 1st, 2005 by anakbumimanusia

sebuah perdebatan seringkali muncul
ketika dua orang aktifis atau lebih
muncul pada ruang dan waktu yang bersamaan
ratusan teori, ribuan pengalaman
menjadi santapan.
memang Aktifis, Orang-orang yang aneh !!!

Petani berdaulat ! Oh, itu pasti.
tapi nati dulu bentuk berdaulat seperti apa sih. seringkali prtanyaan-pertanyaan ini terlontar dalam benakku. petaninya yang berdaulat, atau aktifisnya yang berdaulat ? ah memang para aktifis yang aneh.

sampai saat ini entah kedaulatan seperti apa yang diidam-idamkan semua masih abstrak, semua masih maya. Kita giatkan program Pertanian berkelanjutan pake metode LEISA, ketahanan pangan,….tunggu LEISA ?
emang LEISA apaan sih, bisa dibeli dimana tuh yang namanya LEISA? kalo aku mau, bisa dibeli dimana yah, rasanya manis, asem atau asin ?
Oh ternyata produkan orang-orang langit, pujangga-pujangga atas nama petani, ah para ahli itu ….

beberapa dari kami masih sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, ada yang sedang menyusun laporan, ada pula yang sibuk dengan urutan angka-angka dan proses mengarang indah.

Hey, lihat ini HP model terbaru ! harganya murah, yah lumayanlah bisa dicicil 12 kali, lumayan cicilannya ga begitu mahal.

di meja rapat sebelah sana duduk seorang kreator besar yang terus menerus memeras simpul-simpul otak ke dalam tulisan. kotak kecil laptop dijadikan media penyimpan data, sebegitu besarkah ide yang akan dihasilkansehingga kapasitas otak tidak dapat menampung dan harus disimpan dalam kotak hitam itu.

Aha, kabar itu akhirnya datang juga, kantor kita diberi kepercayaan memfasilitasi kegiatan. Stategic Planning, ya kita memfasilitasi itu. ah dana ga seberapa tapi ini akses bung, ini akses BUNG !!!

Ah, pekerja LSM yang aneh !!!

Bookmark and Share