
Seberkas lembaran lama tak sengaja kutemukan kembali, kubaca perlahan dan kucoba memaknai isinya.
Hari ini, dengan segala kepenatan yang ada di tubuh yang perlahan mengendap-endap mencekikku dalam kesunyian. Kutemui semua hal yang tertulis dalam lembaran lama itu di dalam dunia nyata dan sahih kebenarannya.
Alkisah, datanglah aku ke salah satu raksasa media di kota ini. Sekedar hanya untuk mengikuti tes penerimaan buruh media radio. Diawal, kulihat cukup megah gedung yang berada di depanku ini, Sarinah. Teringat akan kejayaan Sukarno yang memproklamirkan diri sebagai bapak revolusi Indonesia pada masa itu. Akhirnya aku bisa memasuki gedung yang sangat bersejarah ini, yang dibangun saat tradisi kiri cukup kental di indonesia. Gedung ini pernah menjadi media propaganda yang cukup dahsyat di mata internasional, bahwasanya Negara kiri terbesar di Asia Tenggara memiliki gedung yang cukup megah sebagai pusat perdagangan dan perkantoran.
Ah, itu hanya masa lalu !!!
Saat ini gedung ini hanya berisi kantor-kantor yang semata hanya menjadi kaki dari gurita-gurita raksasa perekonomian Indonesia.
Singkat kata, masuklah aku ke dalam sebuah ruangan kecil berukuran 5m x 5 m. mulailah para pion-pion manajemen media ini berpropaganda tentang kejayaan group mereka. Group mereka memiliki banyak franchaise sebagai kaki gurita ekonomi. Mereka bergerak mulai dari Food & beverage, media (cetak &elektronik), pariwisata, hiburan, property dll dll dll. Hmmm, banyak sekali pikirku. Dan kesemuanya berada di kepemilikan satu orang. Hebat benar pikirku, dan saat kutanyakan apa kerja mereka (owner) sekarang? Mereka menjawab owner melaksanakan pengawasan/supervise.
Ahh, pikirku lagi. Sebenarnya apa pekerjaan mereka, pengawasan/supervise hanyalah topeng, apakah mereka hanya ongkang-ongkang kaki dan mendapatkan deviden setiap tahunnya dari franchise2 itu ?
Dan saat kubaca tulisan lama ini, mirip situasinya dengan grup-grup perusahaan di Indonesia saat ini :
“…Kita mulai dengan alat-alat komunikasi. Dan kita dapati telegrafi berada di tangan pemerintah. Perkereta-apian dan sebagian besar kapal-kapal uap samudera dimiliki, bukan oleh kapitalis-kapitalis individual yang mengelola bisnis mereka sendiri, melainkan dimiliki oleh perusahaan-perusahaan perseroan yang bisnisnya dikelola untuk mereka oleh pegawai-pegawai bayaran, oleh pegawai-pegawai yang kedudukannya sepenuh dan selengkapnya adalah sebagai pekerja-pekerja atasan dan yang dibayar lebih baik. Sedangkan yang mengenai para direktur dan pemegang saham, mereka mengetahui bahwa semakin sedikit yang tersebut duluan mencampuri manajemen, dan yang tersebut belakangan dengan supervisi/pemilikan, semakin baiklah itu bagi perseroan tersebut. Suatu pengawasan yang longgar dan cuma resminya saja memang merupakan satu-satunya fungsi yang tersisa bagi para pemilik bisnis itu. Dengan demikian kita melihat bahwa sesungguhnya para pemilik kapitalis perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak mempunyai kegiatan lain dalam perusahaan-perusahaan itu kecuali menerima dividen-dividen (pembagian keuntungan) setengah-tahunan. Di sini fungsi sosial para kapitalis telah dialihkan pada pegawai-pegawai yang dibayar dengan upah; sedangkan ia sendiri terus mengantongi, dengan dividen-dividen itu, upah untuk fungsi-fungsi itu, sekalipun ia telah berhenti mengerjakannya.
Tetapi sebuah fungsi lain masih tersisa bagi kaum kapitalis itu, yang telah dipaksa “pensiun” dari manajemen karena luasnya perusahaan-perusahaan raksasa bersangkutan. Dan fungsi ini ialah berspekulasi dengan saham-sahamnya di pasar bursa. Karena tiada sesuatu untuk dikerjakan, maka para “pensiunan” kita itu, atau yang sesungguhnya para kapitalis yang digantikan itu, berjudi sesuka-suka hati mereka di lingkungan gemah-ripah ini. Mereka pergi ke sana dengan niat tegas untuk mengantongi uang yang pura-pura mereka peroleh (sebagai ‘upah’) sekalipun mereka mengatakan, bahwa asal-muasal segala pemilikan adalah kerja dan simpanan-barangkali memang asal-muasalnya, tetap jelas bukan tujuannya. Betapa munafiknya: dengan kekerasan menutup rumah-rumah judi yang kecil-kecil, sedangkan masyarakat kapitalis kita tidak dapat hidup tanpa sebuah rumah judi raksasa, di mana berjuta-juta demi berjuta-juta diderita sebagai kekalahan dan dimenangkan, menjadi pusat masyarakat itu sendiri! Di sini, sesungguhnya, keberadaan para kapitalis pemegang saham yang “pensiun” itu tidak hanya menjadi berlebihan, melainkan juga suatu gangguan yang tiada terhingga.
Kenyataan yang sebenarnya dalam perkereta-apian dan perkapalan-uap hari demi hari kian menjadi kenyataan pula bagi semua perusahaan manufaktur besar dan perdagangan. “Pengambangan”-mengubah kongsi-kongsi perseorangan besar menjadi perseroan-perseroan terbatas-telah menjadi kenyataan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Dari pergudangan-pergudangan kota Manchester hingga bengkel-bengkel dan tambang-tambang batubara di Wales dan di Utara dan pabrik-pabrik Lancashire, segala sesuatu sedang atau telah dibuat mengambang. Di seluruh Oldham nyaris tersisa sebuah pabrik katun yang berada di tangan perseorangan; bahkan pedagang eceran semakin digantikan oleh ‘toko-toko koperatif,’ yang sebagian terbesarnya hanyalah koperasi dalam nama belaka-tetapi mengenai ini kita tunda untuk lain kali. Demikianlah telah kita melihat bahwa oleh perkembangan sistem produksi kapitalis itu sendiri, kaum kapitalis digantikan secara sama seperti pemintal-tangan. Tetapi dengan perbedaan, bahwa pemintal-tangan ditakdirkan pelan-pelan mati-kelaparan, dan kapitalis yang digantikan itu dengan kematian pelahan-lahan karena terlampau banyak makan. Dalam hal ini mereka umumnya sama saja: kedua-duanya tidak mengetahui harus bagaimana diri mereka itu.
Maka, inilah hasilnya: perkembangan ekonomik masyarakat aktual kita semakin cenderung berkonsentrasi, mengsosialisasikan produksi ke dalam perusahaan-perusahaan raksasa yang tidak dapat lagi dikelola oleh kaum kapitalis tunggal. Segala omong-kosong mengenai “ketajaman melihat”, dan keajaiban-keajaiban yang dihasilkannya, berubah menjadi omong-kosong besar segera setelah suatu perusahaan mencapai suatu ukuran tertentu. Bayangkanlah “ketajaman melihat” Perkereta-apian London dan Barat-laut! Tetapi, yang tidak dapat dikerjakan oleh sang majikan/ahli, pekerja biasa, hamba-hamba perusahaan yang berupah, dapat melakukannya dan itupun dengan berhasil.
Demikianlah, kaum kapitalis tidak dapat lagi mengklaim keuntungan-keuntungan/laba sebagai “upah pengawasan/supervisi,” karena ia tidak mengsupervisi apapun. Biarlah selalu kita ingat itu, manakala para pembela modal menggembar-gemborkan kalimat itu.
Dalam nomor minggu lalu, telah kita coba buktikan bahwa klas kapitalis juga menjadi tidak mampu mengelola sistem produktif rakasa negeri ini; bahwa di satu pihak mereka telah memperluas produksi sehingga secara berkala membanjiri seluruh pasar dengan produk-produk, dan di lain pihak menjadi semakin tidak mampu mempertahankan diri terhadap persaingan dari luar (negeri). Demikianlah kita mendapati, bahwa kita tidak saja dapat dengan sangat baik mengelola industri-industri besar negeri ini tanpa campur-tangan klas kapitalis , tetapi juga, bahwa campur-tangan mereka itu semakin menjadi gangguan tak-terhingga. (”Klas-klas Masyarakat - Diperlukan dan Berlebihan,” diterbitkan dalam The Labour Standard - London, pada bulan Agustus 1881.)
Terlintas dalam benakku kemudian :
“Mundurlah! Berikan kesempatan kepada klas pekerja !!! “